Powered by Blogger.
Powered by Blogger.

Gereja Kuno ‘Sekarang’


Gedung gereja dibangun dan didirikan bukan saja demi tujuan fungsional. Seakan kalau dia cukup besar dan bisa menampung umat untuk berdoa secara nyaman maka tujuan pendirian gedung gereja sudah terpenuhi. Gereja bukanlah batu dan bata yang disusun dan kemudian berdiri sendiri terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Gereja adalah hidup itu sendiri.

Gereja dengan usia seratus atau dua ratus tahun adalah gereja untuk masanya. Orang yang sinis akan mengatakan, itu adalah ‘gereja kolonial’: tertutup, gelap. Sebaliknya, orang tua mengatakan gereja semacam itu sakral dan mistis. Apa pun yang dikatakan orang, sebuah bangunan adalah kreasi anak zamannya. Dengan demikian, bisa dipahami gereja kuno adalah juga cerminan keyakinan teologi pada masanya: eksklusif, tidak ada kebenaran di luar Gereja, dunia sehari-hari adalah realita yang harus disikapi dengan sangat hati-hati.

Romo (Y.B.) Mangun(wijaya) adalah anak teologi Konsili Vatikan II, seorang arsitek masa ini yang secara serius hendak mengungkapkan ajaran iman dalam setiap pernik dan simbol dalam gedung gereja yang didirikannya. Gereja harus memuat kebutuhan liturgi, pastoral, dan sosio-budaya.

Cara Romo Mangun menghubungkan konsep-konsep teologi Gereja dengan kebudayaan tampak juga dalam karakteristik bangunan gereja yang terbuka. Lain dengan gereja kuno, gereja sekarang ini adalah Gereja Gaudium et Spes, Kegembiraan dan Harapan untuk semua orang tanpa pandang bulu dan latar belakangnya Kesatuan alam sebagai ekosistem kehidupan menjadi perhatian penting. Gereja sekarang memperhitungkan perjumpaan sebagai sesuatu yang penting. Gereja dalam arti ini menjadi sangat dekat dengan kehidupan real di bumi Indonesia.

Pada intinya, gereja yang sebaiknya hadir di sekitar kita adalah gereja yang akrab dengan situasi pluralitas agama, pluralitas budaya, dan pluralitas kemiskinan yang menjadi situasi umum Asia. Mendesain bangunan gereja yang menampilkan situasi dan pergulatan hidup umat. Dengan demikian, konsepsi Gereja pun menjadi sangat domestik dan akrab dengan apa yang setiap hari dirasakan, dialami, dan dijumpai umat, bukan sebagai bangunan asing.

Persoalannya, apa yang hendak kita lakukan dengan gedung-gedung gereja kuno? Yang ‘terlanjur’ hadir pada zaman ini, dengan mental dan psikologi yang sudah berbeda dengan sekian puluh tahun lalu? Di tengah-tengah penghayatan iman dan konsep teologi yang berubah?

Lalu, apa yang dipikirkan dalam dunia ideal ternyata tidak mudah begitu saja diterapkan dalam hidup praktis. Yaitu, ketika luas dan besarnya gedung tidak memadai lagi, ketika gedung terlalu panas sehingga membutuhkan alat pendingin, ketika dibutuhkan ruang tambahan dan aksesori lain, dan sebagainya.

Tidak sulit untuk mengatakan gedung gereja harus pluralis, terbuka, transparan, karena ini yang diajarkan oleh para Bapa Konsili. Mudah juga untuk mengatakan gereja sebaiknya menampilkan dirinya sebagai model paguyuban yang merangkul siapapun yang ada di sekitar. Bahkan, ketika orang mau berdoa sewaktu-waktu pun bisa saja, karena gereja sebaiknya tidak pernah dikunci. Siapapun dan kapanpun orang datang ke gereja, bisa sujud hormat kepada Tuhan Sang Agung.

Persoalan baru muncul ketika ‘tamu tak diundang’ (maling) berdatangan, nyamuk dan binatang lain mengganggu umat. Problem yang dianggap remeh untuk para idealis, tetapi cukup menjadi alasan sebagian umat tidak mau datang lagi beribadah di tempat yang tidak aman dan nyaman. Para praktisi petugas pastoral di lapangan tentu akan mengatakan, para idealis adalah naif ketika mencampakkan begitu saja harga yang harus dibayar di atas.



Yang diungkapkan di atas baru sisi fungsi. Persoalan Gereja di sepanjang masa selalu adalah, di satu pihak, setia pada visi dan misi, tetapi di saat yang sama mau berubah mengikuti perkembangan zaman di luar dirinya,di antaranya memenuhi kebutuhan-kebutuhan paling konkret dan riil umatnya. Bahkan, restorasi dan renovasi Candi Borobudur pun tidak menggunakan bahan dan material yang digunakan 12 abad yang lalu.

Dengan adanya gereja-gereja tua ini, tantangan kita adalah bagaimana spirit dan pesan Yesus yang hendak disampaikan tidak pernah hilang. Gedung yang kuno tidak otomatis akan menghilangkan visi dan misi, sebagaimana arsitektura kontemporer otomatis akan mendukung penghayatan iman umat modern. Spirit tetap dan sama, tetapi ungkapannya bisa berbeda dengan simbol dan ekspresi pada masanya.

Pelajaran dari Merapi

Merapi adalah nama favorit bagi gunung berapi di Indonesia. Ada tiga gunung penyandang nama Merapi: di Bukittinggi, Sumatra Barat, di perbatasan Jateng dan DIY, serta di Pegunungan Ijen, Jawa Timur. Dari tiga gunung ini, Merapi di perbatasan Jateng dan DIY paling besar, sekaligus yang paling terkenal. Inilah gunung berapi stratovolkano yang paling muda, sekaligus paling aktif di kawasan zona subduksi Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia, di bagian selatan Pulau Jawa.

Energi Merapi adalah berkah bagi kesuburan kawasan di sekitarnya. Itulah sebabnya, dua kerajaan besar pernah lahir di kawasan ini: Mataram Hindu (Mataram kuno, 752–1045), dan Mataram Islam (abad 16–18). Selain berkah, energi Merapi juga bencana.

Kerajaan besar di Jawa dengan warisan Prambanan dan Borobudur itu, juga hancur oleh letusan dahsyat Merapi pada tahun 1006. Empu Sendok yang memerintah Mataram antara 929–947, terpaksa memindahkan kerajaan ke Jawa Timur.

Sampai sekarang, Merapi tetap menjadi berkah, sekaligus penebar bencana. Kesultanan Yogyakarta, sekarang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan penerima berkah, sekaligus bencana dari Merapi. Kawasan Jawa Tengah yang langsung berbatasan dengan DIY, juga menjadi penerima berkah sekaligus bencana tersebut. Tiga kabupaten penerima berkah dan bencana Merapi adalah Kab Sleman (DIY), dan Kab Magelang, serta Boyolali (Jateng). Di Kab Magelang itulah terletak Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Keuskupan Agung Semarang.

Paroki dengan buku baptis pertama tanggal 1 Januari 1965 ini, sebelumnya stasi dari Paroki Santo Antonius Muntilan. Di paroki inilah berkarya Pastor Vincentius Kirjito Pr. Pada 10 Juni 2010, Romo Kirjito dan Habib Said Ali al Habsy dari Martapura, Kalsel, menerima Maarif Award, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mereka berdua dianggap oleh para juri Maarif Award, sebagai nyala lilin-lilin kecil, yang memberikan harapan bagi kehampaan dalam proses kepemimpinan Indonesia selama ini.

Apakah hebatnya Romo Kirjito, yang oleh kalangan dekatnya biasa dipanggil Lik Kir? Dia hebat justru karena mampu menyadari ketidakhebatannya. Dia banyak belajar dari masyarakat di lereng barat Gunung Merapi, yang juga menyadari ketidakhebatan mereka dalam menghadapi kekuatan energi merapi. Caranya, masyarakat berusaha menyatukan diri dengan alam Merapi. Berkah dan bencana Merapi sama-sama mereka terima dengan sepenuh hati. Maka, setiap kali Merapi meletus, masyarakat seakan malas untuk mengungsi, sesuai anjuran pemerintah.

Mereka menganggap bencana adalah awal dari berkah. Erupsi Merapi memang merusak apa saja. Tanaman, ternak, rumah, bahkan juga manusia. Tetapi, bersamaan dengan itu, juga akan ditebarkan abu vulkanis yang mampu menyuburkan lahan di sekitarnya. Maka, masyarakat pun sampai pada kesadaran bahwa kematian juga bagian dari kehidupan itu sendiri. Bagi masyarakat di luar lingkungan Merapi, pandangan demikian terasa aneh.

Sebagai imam Katolik di kawasan bencana, Romo Kirjito terpaksa harus menyatukan diri dengan keyakinan masyarakat setempat.

Romo Kirjito dan masyarakat di Kecamatan Dukun, sama-sama membuka hati untuk saling menerima. Maka, muncullah sebuah istilah yang bagi masyarakat Katolik sendiri terdengar asing: pastoral budaya, sedulur merapi, komunitas lima gunung, kearifan lokal, dan lain-lain. Paroki Sumber dan pastornya, yang sebelumnya tidak dikenal, tiba-tiba menarik perhatian media massa. Cara berpastoral Romo Kirjito tampil di ranah publik. Banyak pihak mengaku terinspirasi dengan cara hidup menggereja ala Romo Kirjito.

Namun demikian, ada juga tokoh Gereja yang tidak suka. Romo Kirjito mereka anggap menyalahi pakem liturgi. Pluralitas memang juga ada di dalam Gereja Katolik sendiri. Sebagai imam Projo yang langsung di bawah Uskup, Romo Kirjito juga harus berdampingan dengan pastor paroki dan imam-imam di kuria keuskupan, dari berbagai tarekat. Tidak semua imam harus setuju dengan yang dilakukan Romo Kirjito. Namun demikian, melalui Romo Kirjito, masyarakat Indonesia bisa ikut memetik “Pelajaran dari Gunung Merapi”.

Tahun Pertanian

Sulit untuk menduga-duga apakah umat Katolik masih tergetar dengan topik pertanian ini. Apa urusan Gereja dengan pertanian? Kebanyakan orang di luar Gereja saja sudah tidak peduli lagi pada pertanian ini. Lebih aneh lagi mencoba menganyam benang-benang keprihatinan ini dengan iman Katolik.

Justru karena dilecehkan di tempat lain, Gereja, dalam hal ini Keuskupan Purwokerto, mengupayakan sungguh-sungguh. Tahun 2010 - 2011 sebagai Tahun Keprihatinan Pertanian dan menutup seluruh rangkaian tahun keprihatinan pastoral Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto sebagaimana yang dimandatkan dalam Hasil MUSPAS Tahun 2006.

Tubuh manusia pada dasarnya sakral. Hak untuk hidup melekat dengan keberadaannya. Ia memang membutuhkan kekuatan spiritual. Namun – tidak boleh dianggap lebih rendah dari yang spiritual – manusia membutuhkan kekuatan material dan fisik. Dengan demikian, makanan dan pertanian menjadi bagian dimensi hidup manusia.

Semua ciptaan adalah anugerah. Mereka yang dekat dengan alam, merawat tanah, mengatur penggunaan air secara baik, menumbuhkan tanaman, serta memelihara ternak dan binatang adalah ungkapan seorang pelayan yang baik dan setia pada Sang Tuan. Gereja sebaliknya mengecam penyalahgunaan ciptaan Tuhan.

Umat manusia dan terlebih umat beriman dipanggil membangun komitmen untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Berbicara tentang pertanian, biasanya yang dikutip adalah perkataan Yesus ini: ”Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan” (Mt 25:35). Tetapi, apakah ayat ini cukup menyadarkan dan menghentak umat Katolik untuk mau memperhatikan bidang tersebut? Sangat diragukan.

Manusia menghayati arti cinta pada ciptaan dalam konteks yang terus berubah. Dengan demikian, respons yang dilakukan juga perlu diadaptasi. Bahkan, tidak jarang basis filsafat di balik keprihatinan itu perlu dibongkar karena tatanan yang berbeda. Misal, konsep pertanian setengah abad lalu, tidak lebih dari menyediakan makanan agar umat manusia mampu survive. Pada hari ini konsep yang sangat berpusat pada manusia itu sudah ditinggalkan, atau setidaknya, perlu dikoreksi. Pertanian sekarang ini tidak melulu untuk manusia, melainkan untuk seluruh ciptaan dan planet bumi ini.

Pertanian pada zaman ini hendak menyatukan tiga tujuan: kesehatan lingkungan, pendapatan ekonomis, dan demi keadilan sosial-ekonomi. Pertanian bukan untuk menghidupi dan memuaskan keserakahan manusia yang hidup hari ini. Terhadap seluruh ciptaan, manusia bukan pemilik yang boleh menggunakan semaunya. Manusia adalah pekerja yang diberi tanggung jawab untuk mengelola secara berkelanjutan demi generasi berikut. Tanggung jawab manusia yang meliputi dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial mendapat prioritas yang sangat tinggi.

Jika Gereja hendak terlibat dalam kancah ini, ia tidak bisa mengacuhkan filosofi pertanian yang holistik semacam itu. Dan ini bukan perkara mudah.

Ada sebuah Gereja Lokal yang membuat perencanaan lima tahunan dengan mengambil fokus tahun demi tahun berturut-turut sebagai berikut: Kaum Muda, Pendidikan Nilai dalam Keluarga, Formalisme Agama, Kemiskinan, dan Pertanian. Dari segi konsep dan filosofi, cara berpikir dan bekerja semacam ini cenderung problematis.

Sulit untuk menghilangkan kesan bahwa lima elemen tersebut ditangani secara terpisah-pisah. Juga sulit untuk menghindar dari pemahaman bahwa masing-masing hanya dikerjakan (dan diselesaikan) dalam waktu satu tahun. Peta perjalanan hidup bukan menyerupai pergerakan dari Kota Jakarta, Cirebon, Semarang, dan berakhir di Surabaya. Progres ke depan bukan perjalanan geografis dari satu ruang ke ruang lain. Melainkan adanya perbaikan kualitas dari waktu ke waktu: dari jalan kaki, naik sepeda, mobil, kemudian naik pesawat terbang. Inovasi dari pekerjaan lama adalah sasaran.

Mengapa inovasi penting? Gereja tidak akan menjadi garam dan terang dengan mengadopsi begitu saja program-program yang sudah ’dijual eceran’ di luar. Yang membuat ia bercahaya dan memberi daya tarik adalah kreativitasnya. Ia memiliki cara kerja dan metodologi yang berbeda. Hanya dengan cara itulah Gereja menjadi tampak ’lebih’ dari lainnya.

Vokasi

Pendidikan vokasi terkadang (dahulu) disebut pendidikan kejuruan, keterampilan, atau praktis. Sekarang, disebut pendidikan dan sekolah vokasi. Sebuah proses evolusi yang menarik. Pergantian nama tentu merupakan perkembangan yang alamiah dan bisa terjadi untuk hampir apa saja yang ada di atas permukaan bumi.

Tetapi pergantian ini bisa juga mengatakan banyak hal pada kita. Pergantian dan sekian nama yang ada memperlihatkan bahwa area ini sebenarnya belum stabil dan established. Pergantian istilah demi istilah ini mencerminkan sebuah pencarian yang belum selesai. Nampaknya, hanya sebuah pencarian ’istilah’. Namun, diduga bukan hanya sekadar pencarian ungkapan yang lebih cantik dan lebih pas, melainkan pencarian ’identitas’.

Pencarian identitas kerap kali menjadi tanda berlangsungnya situasi krisis. Orang atau kelompok yang mencari identitas ini mengalami situasi goyah. Dan ini bisa berakibat orang-orang yang terlibat di dalamnya pun tidak yakin tentang apa yang sedang dikerjakan dan diperjuangkan. Gejalanya antara lain, mereka merasa bahwa masyarakat memandang rendah terhadap ’barang’ yang mereka jual. Lalu segera mereka menjajakan dan berteriak dengan kencang, ”Ini barang dengan kualitas tinggi’.

Apakah seseorang bisa berdiri tegak, ketika identitas diri saja masih dalam pencarian? Apakah seseorang bisa keluar dan menyapa dunia, sementara dia sendiri masih terpenjara oleh selaput tebal dan masih belum nyaman dengan dirinya sendiri?

Tetapi, kita harus hati-hati. Jangan-jangan spekulasi di atas sebenarnya mengada-ada. Pergantian nama justru bisa diartikan sebagai fenomena yang positif. Tidak ada yang stabil dalam arti yang statis di muka bumi ini. Berbagai faktor luar akan memaksanya untuk memperbarui diri. Kalau tidak peduli dengan perubahan tersebut, orang, lembaga, atau apa pun tidak akan bertahan. Dia akan punah. Bahkan binatang pun ber-evolusi agar bisa survive. Dengan demikian, evolusi maupun revolusi menjadi kata ’vokasi’ bisa dipahami, dan justru positif.

Perubahan menjadi lebih mendesak untuk sekolah yang berbasis keterampilan ini. Banyak latihan yang ada dalam sekolah membutuhkan bantuan alat dan teknologi. Di masa lalu, teknologi yang digunakan masih sederhana. Ketika teknologi di luar semakin canggih, maka siswa-siswi harus beradaptasi dengan temuan baru ini. Ada pengetahuan dan keterampilan baru yang harus ia kuasai. Pada gilirannya, ini mendefinisikan ulang nama pekerjaannya. Tidak mengherankan bahwa di masa depan ’tukang jahit’ akan hilang, yang dicari adalah ’disainer’ pakaian. Filosofi pekerjaan mengubah cara bekerja dan nama pekerjaannya.

Kesadaran untuk menanggapi perubahan zaman inilah yang menjadi kunci apakah sekolah kejuruan semacam ini (sebenarnya, sekolah apapun) memiliki daya tahan. Ketika keterampilan hanya berorientasi pada kebutuhan, pasti menjadi dangkal. Tetapi bila melulu konservatif dan tidak mau berubah, ia tidak akan pernah didekati orang. Hanya ketika ia berkarakter sekaligus berfungsi, ia menjadi solid.

Untuk beberapa pendidikan dan sekolah vokasi tidak ada ’kebingungan identitas’ sama sekali. Untuk beberapa lembaga ini, sudah sekian puluh tahun mereka hadir. Mereka tidak pernah kekurangan murid. Alumninya selalu diperebutkan oleh banyak perusahaan, mendapatkan posisi yang bagus dengan gaji yang mewah pula. Sama sekali mereka tidak minder terhadap sekolah mana pun.

Tetapi kasus terakhir ini adalah kisah-kisah sukses segelintir sekolah. Sebagian besar sekolah vokasi meratapi dirinya sendiri. Pembiayaan mahal karena menuntut banyak praktik. Sementara yang datang adalah orang-orang tidak mampu karena memang mereka berpikiran bagaimana cepat mendapatkan pekerjaan. Kesulitan ini masih diperburuk, yang datang pada mereka adalah anak-anak yang pada dasarnya tidak memiliki habit belajar, untuk tidak mengatakan tidak cerdas. Sekolah ini hanya menjadi penampung sumber daya manusia muda yang tidak mendapatkan kursi terhormat di sekolah-sekolah umum favorit.

Keberhasilan pendidikan dan sekolah vokasi bukan hanya karena kita lemah dalam promosi, juga bukan sekadar tidak memiliki kurikulum yang baik, atau tidak juga memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung. Keberhasilan ditentukan ketika ia progresif, sekaligus tidak pernah kehilangan karakter dan identitasnya.

Universitas yang Katolik

Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta berumur setengah abad. Lima puluh tahun lalu, para sarjana dan cendekiawan Katolik berdiskusi dan merasa terpanggil untuk menyumbangkan ’sesuatu’ pada Gereja dan bangsa. Mereka mendirikan Universitas Katolik dengan cita-cita mendidik mahasiswa menjadi pribadiyang tidak hanya matang secara intelektual, tetapi juga matang dalam kepribadian.

Para perintis Atma Jaya bekerja mulai dari apa yang bisa dikerjakan di depan mata. Yang ada di sana bukan orang-orang sakti seperti dalam legenda Lara Jonggrang yang hendak membangun candi dalam satu malam. Yang hadir dan bekerja adalah arsitek yang membangun sistem. Sebuah sistem yang hendak diwariskan kepada generasi berikut. Itulah yang terwujud dalam Universitas Katolik Atma Jaya yang berumur 50 tahun sekarang ini.

Usia separuh abad itu sebenarnya bukan rentang waktu yang fantastik untuk sebuah universitas. Universitas Bologna di Itali (berdiri 1088), Universitas Oxford di Inggris (1096), dan Universitas Cambridge di Inggris (1209), semuanya masih berdiri hingga sekarang. Tidak usah di Eropa, bahkan di Asia pun, kita mengenal berbagai universitas dengan umur yang panjang, Santo Tomas, di Filipina (1611), National University of Singapore (1905), dan Universitas Dhaka di Banglades (1921). Untunglah kita punya Universitas Indonesia, yang sebagai Sekolah Kedokteran dianggap sudah berdiri pada 1849.

Jangan berpikir bahwa semua lembaga Katolik akan mencapai usia ratusan tahun seperti itu. Juga jangan berandai-andai bahwa kualitas sebuah universitas Katolik otomatis baik dan terjaga mutunya. Padahal, kualitas sebuah lembaga Katolik sangat penting karena sebuah institusi yang tidak bermutu hampir tidak adanya gunanya untuk dipertahankan.

Ada bukti kuat berbagai universitas sekular raksasa kelas dunia dengan sikap disiplin menyimpan dan menjaga nilai-nilai fundamental. Nilai-nilai inti yang dimiliki oleh berbagai organisasi non-Gereja dan non-agama ini kerap sangat humanis dan spiritual. Terdengar aneh untuk telinga awam bahwa tujuan utama yang dirumuskan dalam visi dan misi lembaga-lembaga for-profit ternyata bukan melulu ’profit’. Meski ‘uang’ menjadi salah satu faktor, namun ini bukan cita-cita yang pertama dan terutama. Uniknya, visi yang sangat luhur ini menjadi salah satu kunci penting untuk menerangkan mengapa banyak universitas sekular sukses mewujudkan cita-citanya.

Dengan demikian, tantangan Perguruan Tinggi di bawah bendera Gereja Katolik seharusnya adalah mampu menempuh jalan yang sama tetapi dengan rute yang berkebalikan. Yaitu, sambil tetap mempertahankan nilai idealisme religius dan humanis, mereka mampu mendorong ke arah tindakan yang pragmatis. Karya kerasulan diharapkan sampai pada level kemandirian finansial. Dan lebih dari sekadar ’mandiri’, harus selalu ada kekuatan finansial yang dialirkan untuk semakin memperkuat visi dan misi. Uang selalu penting – meski bukan yang paling penting – setiap kali kita berbicara dan berdiskusi bagaimana universitas Katolik hendak meningkatkan kinerja pelayanan yang lebih berkualitas.

Yang kerap berlangsung justru sebaliknya. Universitas Katolik terlalu menekankan dirinya sebagai institusi non-profit. Akibatnya, berlangsung beberapa ekses: menganggap sah jika menggantungkan sepenuhnya pada funding, penggunaan keuangan yang tidak dipertanggungjawabkan secara cermat, kinerja seadanya.

Banyak lembaga Gereja menelorkan rumusan visi dan misi yang bagus. Merumuskan visi dan misi yang indah memang bukan pekerjaan sulit. Pertanyaannya, mengapa tidak terlalu banyak yang berhasil mewujudkan cita-cita tinggi tersebut?

Di tengah-tengah persimpangan tadi, jalan sintesis hendak ditawarkan di sini. Di satu pihak, lembaga Gereja setia pada visi dan misi. Di lain pihak, ia harus terus memacu diri peka pada perubahan dan mendorong ke depan. Banyak institusi bubar karena ia tidak memelihara visi dan misi. Tetapi, ia juga bisa lenyap karena tidak pernah membarui bentuk lembaga, struktur personalia yang menopang seluruh sistem, dan teknologi yang mampu mendorong cara kerja yang lebih modern. Singkatnya, setiap lembaga Gereja seharusnya berada di depan perubahan (leading change).

Katolik Flores

Flores identik dengan alam yang kering, masyarakat yang miskin, dan mayoritas beragama Katolik. Itulah pandangan orang luar terhadap pulau terbesar kedua di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Katolik Flores sering diibaratkan sebagai lilin, yang harus memancar dan menerangi. Beda dengan Katolik Jawa, yang harus menjadi garam. Tidak kelihatan tetapi terasa keberadaannya. Pandangan stereotip tidak selamanya benar. Manggarai dan Ngada adalah kawasan yang banyak air, subur, dan masyarakatnya makmur. Bahkan, kalau kita berkendaraan dari Ende ke Gunung Kelimutu, akan tampak di kiri kanan jalan yang menanjak itu sawah, dengan sungai-sungainya yang berair jernih.

Tetapi, mengapa banyak masyarakat dari kawasan yang makmur ini merantau ke luar Flrores, bahkan ke luar negeri? Hasrat untuk merantau tidak selalu disebabkan oleh kemiskinan, serta kawasan yang tandus. Sumatera Barat adalah kawasan yang subur dan makmur. Akan tetapi dari kawasan yang subur inilah berasal para perantau yang menyebar ke seluruh negeri, terutama ke Jakarta. Masyarakat Flores, khususnya Manggarai, gemar merantau karena adanya hasrat untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai “lilin”. Mereka terpanggil untuk menerangi kawasan di sekitar tempat perantauan mereka. Maka, di manapun ada komunitas Katolik, kita akan selalu bertemu dengan orang Flores.

Selain sebagai imam, biarawan, dan biarawati, para perantau Flores juga banyak yang mengadu nasib ke Malaysia sebagai TKI.

Sebagai pemasok imam, biarawan, dan biarawati, Flores adalah lahan panggilan yang sampai sekarang masih erus subur dan produktif. Para imam, biarawan, dan biarawati Flores bukan hanya berkarya di Indonesia, melainkan di banyak negara di dunia. Bagaimana mungkin pulau sekecil ini, dengan populasi tak sampai dua juta jiwa, bisa menjadi ladang subur bagi panggilan imamat?

Hal ini bisa kita maklumi, apabila kita sedikit menyimak kehidupan menggereja di pulau ini. Flores memang sebuah pulau kecil, dengan luas 14.300 km2, dan populasi penduduknya sekitar 1,5 juta jiwa pada tahun 2006. Bandingkan dengan Jawa, pulau terkecil dari enam pulau besar di Indonesia, yang luasnya 132.187 km2, dengan populasi penduduk 130 juta jiwa.

Namun, di pulau kecil dengan populasi penduduk yang juga kecil itu, ada satu keuskupan agung dengan tiga keuskupan: Keuskupan Agung Ende (55 paroki), Keuskupan Maumere (35 paroki), Keuskupan Larantuka (45 paroki), dan Keuskupan Ruteng (76 paroki). Hingga di seluruh keuskupan di Flores dan pulau-pulau sekitarnya, ada 211 paroki. Sebab, wilayah Keuskupan Larantuka juga meliputi Pulau Solor, Adonara, dan Lembata. Provinsi Gerejawi Ende, bahkan juga mengkoordinasi Keuskupan Denpasar di Pulau Bali. Hingga Flores bisa disebut “Pusat Kekatolikan di Indonesia”, yang pengaruhnya tidak hanya terasa di dalam negeri, melainkan sampai ke luar negeri.

Di Flores juga ada enam seminari: 1. Seminari Menengah San Dominggo, di Hokeng, Larantuka; 2. Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere; 3. Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere; 4. Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmas Todabelu, Mataloko, Bajawa; 5. Seminari Pius XII, Kisol, Ruteng, dan 6. Seminari Menengah Yohanes Paulus II di Labuan Bajo. Enam seminari ini seakan menjadi ladang persemaian bagi panggilan imamat para putra Flores. Di tingkat nasional, kita kenal beberapa tokoh Flores, seperti Almarhum Frans Seda (Menteri Perkebunan, Perhubungan, Keuangan); dan Sonny Keraf (Menteri Lingkungan Hidup).

Di hirarki Gereja, tercatat beberapa uskup asal Flores di luar pulau Flores, yakni Uskup Pangkalpinang, Mgr Hilarius Moa Nurak SVD; Uskup Bogor, Mgr Cosmas Michael Angkur OFM; Uskup Denpasar, Mgr Dr Silvester Tung Kiem San; Uskup Jayapura, Mgr Dr Leo Laba Lajar OFM; dan Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Hilarion Datus Lega. Dari 37 keuskupan di Indonesia, ternyata ada lima uskup asal Flores di luar pulau Flores, dan ditambah empat uskup di Pulau Flores sendiri, ada sembilan uskup yang berasal dari Flores. Kekatolikan Flores tentu tidak hanya bisa kita kagumi dari segi kuantitas. Dari sisi kualitas, selain tampil sebagai pejabat pemerintah, dan gereja, etnis Flores juga dominan sebagai penulis, wartawan, dan terutama intelektual.

Kebebasan

Argumen majelis hakim konstitusi terasa provokatif. Undang-undang yang dibuat pada era demokrasi terpimpin 1965 bisa dijadikan sandaran hukum bila terjadi tindakan anarkis terhadap penganut agama di Indonesia. Selain itu, majelis hakim konstitusi menegaskan, kendati merupakan produk hukum pada era 1965, undang-undang ini secara formal tetap sah secara hukum. Pasalnya, saat itu, MPRS tetap melakukan seleksi terhadap undang-undang agar tetap sesuai dengan UUD 1945.

Keyakinan di atas juga memperkuat Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menolak seluruh permohonan uji materi terhadap UU Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang diajukan beberapa pihak dan tokoh masyarakat. Hampir unanim, anggota majelis hakim konstitusi menilai bahwa pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalilnya bahwa pasal-pasal tersebut melanggar konstitusi, mengancam kebebasan beragama, dan bersifat diskriminatif serta berpotensi melakukan kriminalisasi terhadap penganut agama minoritas. Menurut majelis hakim yang dipimpin oleh Ketua MK, Mahfud MD, undang-undang ini tidak membatasi kebebasan beragama, sebagaimana yang diargumentasikan pemohon. Bahkan, sebaliknya, undang-undang ini justru mencegah ungkapan perasaan yang bersifat permusuhan atau penodaan agama atau pokok-pokok ajaran agama yang ada di Indonesia. Perhatikan pasal di bawah ini.

Pasal 1 berbunyi, “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran, dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Argumennya pun sangat menarik. Di satu pihak, selalu dikatakan bahwa negara menjamin kebebasan. Tetapi, di lain pihak, masih berlanjut, kebebasan selalu ada batasnya. Karena itu, menurut keduanya, UU penodaan agama mutlak diperlukan untuk membatasi kebebasan. Menteri Agama, misalnya, bersikukuh bahwa negara hukum justru memberi penegasan bahwa kebebasan harus dibatasi.

Di sini persoalan ‘kebebasan’ menjadi rumit dan filosofis. Ada dua perkara di sini. Yang pertama, kebebasan perlu dibatasi demi ketertiban publik, dan menjaga hak dasar orang lain. Berdasarkan instrumen ini, para pendukung UU penodaan agama berpendapat bahwa penodaan agama dalam bentuk penafsiran bebas – misalnya, Ahmadiyah atau Jaringan Islam Liberal - harus dilarang karena merusak ketertiban publik. Kita kerap menjumpai kasus inisiatif melakukan kekerasan terhadap orang atau kelompok lain berdasarkan argumen demi ketertiban publik. Pembongkaran rumah ibadah atau penyerangan terhadap satu komunitas yang dianggap sesat merupakan tindakan yang sah karena klaim ini dilakukan demi ketertiban publik. Ironisnya, tidak jarang ketertiban publik diupayakan dengan cara kriminal.

Perkara yang kedua, kebebasan yang lebih hakiki, yaitu bebas dari tindakan semena-mena orang lain. Kesewenang-wenangan sangat tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia modern. Kebebasan menghendaki adanya kondisi di mana setiap orang bebas dari paksaan untuk memeluk agama, beribadah, berpikir, dan menjalani kehidupan. Secuil pun kebebasan semacam ini tidak boleh dirampas oleh pihak manapun. Dengan definisi seperti ini, bisa dipastikan bahwa harmoni sosial dan budaya bukan hanya tidak terusik, melainkan dirayakan. Jika betul bahwa pemerintah, melalui Menag dan Menkumham, menginginkan kehidupan bangsa yang damai dan bebas dari kesemena-menaan, seharusnya yang dilakukan adalah menolak seluruh instrumen yang bisa mengganggu kondisi semacam itu. Problematika yang sedang kita diskusikan adalah sejauh mana sebuah ajaran agama boleh dibatasi dan siapa yang memiliki otoritas untuk membatasi. Siapa yang berhak mengatakan bahwa sebuah ajaran sesat. Tentu pihak yang memunculkan ‘ajaran dan agama baru’ pun tidak boleh mengatakan bahwa ajarannya yang paling benar. Karena itu, ruang kebebasan di mana orang boleh mengekspresikan diri dan mendiskusikan apa yang ia yakini menjadi sangat penting. Itulah kebebasan.

Revolusi Keempat

Kita hidup dalam masa Revolusi Informasi Keempat. Jejak-jejak sebelumnya ditelusuri sejak Revolusi Informasi Pertama, lima atau enam ribu tahun yang lalu di Mesopotamia ketika huruf dan tulisan pertama kali direka-reka. Revolusi Kedua berlangsung ketika epik yang ditulis Homeros diperbanyak di Yunani dalam bentuk ‘buku’. Dan Revolusi Ketiga dipicu ketika mesin cetak yang dirancang oleh Gutenberg bergulir pada pertengahan abad 15.

Pembagian dan tahapan di atas harus dikritisi, setidaknya harus dilengkapi. Misal, tidak tepat Revolusi Pertama melulu berlangsung di Mesopotamia. Di Cina dan Maya, meski lebih lambat, namun berdiri sendiri, berlangsung hal yang sama, lahir kebudayaan tulis-menulis. Revolusi Kedua, tulisan dalam bentuk buku (tentu bukan wujud buku yang kita kenal sekarang) ternyata tidak hanya ada di Yunani. Di Cina, realitas ini sudah ditemukan delapan abad lebih awal.

Kita yang hidup sekarang ini bisa belajar dari dampak dan suasana yang terbentuk selama dan sesudah Revolusi Ketiga. Catatan-catatan sejarah mengenai peristiwa lima ratus tahun lalu ini tersedia melimpah. Mari kita pelajari sejauh mana dampaknya untuk Gereja saat itu? Apa yang bisa kita petik untuk sekarang ini?

Ketika Gutenberg meluncurkan mesin cetaknya (sekitar 1450), industri informasi di Eropa dengan jumlah pekerja yang fantastik untuk ukuran waktu itu sudah terbentuk. Ratusan biara didirikan di benua tersebut, dengan puluhan atau ratusan rahib yang bekerja di dalamnya. Dengan keterampilan dan pengetahuan tinggi, mereka menyalin buku-buku bermutu tinggi, sejak matahari terbit hingga terbenam.

Sekali pun para rahib adalah pekerja tekun, mereka hanya mampu menyalin beberapa halaman saja per hari. Kondisi ini berubah drastis pada tahun 1500-an, setengah abad sesudah mesin cetak ditemukan dan kemudian diperbanyak. Sekitar sepuluh ribu rahib di seluruh Eropa ‘menganggur’. Pekerjaan mereka diganti oleh sedikit saja karyawan yang mengoperasikan beberapa saja mesin sederhana itu. Produktivitas mesin cetak menjadi sekian kali lipat lebih tinggi, dan harga buku pun menjadi jauh lebih murah. Ketika Martin Luther mencetak terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman (1522), orang paling miskin di Eropa pun mampu membelinya. Kesimpulannya, denganmembandingkan konteksnya masing-masing, kita tidak perlu melebih-lebihkan revolusi informasi yang sedang kita jalani ini. Seakan revolusi informasi ini tiada duanya.

Bagaimana dampak langsung pada Gereja lima abad yang lalu? Sangat mencengangkan, sejarah mencatat bahwa Gereja dianggap sebagai pihak yang paling merasakan dampak dari Revolusi Informasi Ketiga ini. Dimulai pada 31 Oktober 1517, ketika Martin Luther memaku 95 rumusan teologi dan protesnya terhadap Gereja Katolik Roma di pintu sebuah gereja kampung di Jerman. Gereja Katolik menganggap remeh protes ‘pastor kampung’ ini. Tanpa sepengetahuan Luther – dan juga tidak diantisipasi oleh Gereja Katolik – 95 rumusan kritik tadi diperbanyak dan disebarkan ke seluruh pelosok Jerman, kemudian hampir ke seluruh Eropa.

Gerakan Luther menuai panenan yang begitu melimpah bukan melulu karena popularitasnya. Pendahulunya, dua reformator, John Wycliffe (1328-1384) di Inggris dan Jan Hus (1369-1415) di Bohemia, juga mendapatkan respon yang sedemikian gegap gempita. Tetapi perjuangan yang mereka lancarkan tidak seluas dampak pemberontakan Luther satu abad kemudian.

Luther lahir dan hidup pada jaman yang tepat. Revolusi Gutenberg adalah faktor eksternal yang ikut menentukan keberhasilan Luther. Tanpa temuan Gutenberg, mungkin Luther menemui nasib yang sama dengan para pendahulunya.

Gereja Katolik sekarang ini? Sebagaimana lima abad yang lalu, ia menghadapi ancaman sekaligus peluang dengan adanya Revolusi Informasi Keempat: revolusi informasi digital dan elektronik. Gereja jangan terlalu cemas terhadap ancaman. Gereja justru harus lebih disibukkan dengan peluang yang mungkin lahir denganadanya revolusi ini. Hanya dengan cara ini Gereja menjadi pionir dan memiliki daya pikat. Apa itu? Sebaiknya jawaban dirumuskan secara negatif: Tidak tahu. Harus dicari bersama. Yang pasti adalah bukan program dan karya komunikasi sosial yang biasa dan rutin.

Penampakan

Memahami ‘penampakan’ Bunda Maria adalah perkara yang menuntut kecermatan tersendiri. Maria yang menampakkan diri berarti ia memberikan dirinya sedemikian rupa sehingga ia bisa dilihat oleh manusia biasa. Tetapi, persitiwa ini tidak dapat atau sulit dimengerti jika menggunakan kaidah-kaidah yang biasa. Hanya dengan iman kita bisa memahami peristiwa ini.

Tidak mengherankan berbagai cerita tentang Bunda Maria yang menampakan diri selalu menarik perhatian orang. Jika memungkinkan orang-orang berduyun dan ingin menyaksikan sendiri apa yang dikatakan orang lain. Beberapa orang berubah menjadi sedemikian fanatik. Sementara orang lain kecewa dan dengan segera meninggalkannya karena tidak percaya sama sekali. Dan harus diakui banyak ‘klaim’ tentang Bunda Maria memang pantas diragukan otentisitasnya.

Muncullah perbincangan dan diskusi atas berbagai fenomenanya. Misalnya, orang bertanya tidakkah ini gejala psikologis semata? Tidakkah orang-orang tertentu yang mengatakan melihat dan bertemu dengan Bunda Maria sebenarnya adalah orang-orang sakit secara kejiwaan? Orang juga masih bertanya, sejauh mana Bunda Maria yang menghadirkan dirinya dan berkata-kata pada orang-orang tertentu memang penting untuk kehidupan iman Katolik?

Bunda Maria dan Yesus Kristus dalam pemahaman iman Katolik memang dimungkinkan untuk menampakan diri dan kemudian memberikan pesan-pesannya pada orang-orang tertentu. Ini berbeda dengan Allah yang pada dasarnya memang tidak terlihat. Dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Bdk. Kol 2:9). Inilah yang kita pahami sebagai Inkarnasi – Sabda menjadi Daging.

Bunda Maria selalu dipahami dalam kerangka Kristus. Seluruh hidupnya sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci memiliki peranan dalam keselamatan manusia hanya ketika ia diletakkan bersama Kristus. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paus Pius XII (Dogma Bunda Maria Diangkat ke Surga; 1 Nopember 195O), Bunda Maria adalah pribadi pertama yang berperanserta dalam misteri kebangkitan Kristus. Dengan logika ini, tidak mengherankan, ia pun diangkat jiwa dan raganya ke surga.

Harus dikatakan bahwa penampakan-penampakan religius tidak sama dengan, atau otomotis merupakan iman itu sendiri. Seakan bahwa iman menuntut bukti nyata, misalnya dalam rupa keajaiban dan tanda-tanda besar yang dipertontonkan pada manusia. Injil Yohanes mengatakan “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh. 20:29). Jadi iman kerap kali bahkan tidak membutuhkan bukti. Terkadang kita dituntut untuk mengatakan Yesus Kristus adalah benar bukan karena bukti dan kejadian-kejadian dahsyat melainkan karena Allah memang mengatakan demikian.

Keberanian iman semacam itu tidak jarang sudah kita pegang dalam perkara yang lebih sederhana. Banyak di antara kita belum pernah datang dan melihat sendiri negara-negara seperti Uganda, Zimbabwe, dan Guyana atau Suriname. Kita pun belum pernah dan tidak akan pernah bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Diponegoro, Gajah Mada atau Napoleon. Tetapi kita percaya bahwa negara-negara tadi benar-benar ada atau tokoh-tokoh tersebut pernah ada.

Tetapi mengapa penampakan Maria itu sangat penting? Tidak jarang secara sosiologis – berbeda dengan dunia Protestan - nampak lebih kuat dari penampakan Yesus. Gejala sosial ini bisa dipahami secara teologis. Setiap penampakan adalah perwujudan dari Allah. Dan karena Maria adalah salah seorang yang paling dekat dengan Allah dan Kristus, maka tidak mengherankan bahwa dia menjadi pribadi yang berkomunikasi dengan manusia lain, mewujudkan berbagai keprihatinan Allah dan Kristus (Bdk. a.l. Luk 1:25-38; Luk 1:39–55;. Yoh 2:1-12; Yoh 19:25-27).

Vision-vision yang kerap kita dengarkan hanyalah bagian atau salah satu unsur saja dari iman. Iman lebih luas dan mendalam dari berbagai keajaiban yang sering kita dengarkan. Meski demikian kita juga tidak bisa meremehkan begitu saja peristiwa-peristiwa tersebut. Banyak peristiwa itu diakui Gereja sebagai peristiwa yang benar. Yang dianjurkan oleh Gereja adalah bahwa umat pun perlu meneliti dengan cermat dan bersikap dewasa dengan gejala-gejala ini. Umat belajar untuk memahami dan membedakan Roh. Secara sabar umat hendaknya menguji buah-buah dari segala peristiwa yang diklaim berasal dari Allah.

Roh Juga diuji

Sekalipun seorang Katolik sudah dibaptis dan resmi menjadi anggota Gereja, masih mungkin bahwa dia berpaling dari komitmen cintanya pada Yesus. Ajaran Gereja yang tradisional mengatakan bahwa dia berdosa, dan oleh karena itu, dia juga sakit dan membutuhkan penyembuhan. Yesus pun memberikan kuasa Roh Kudus pada para muridnya kekuatan untuk mengampuni dosa dan daya kesembuhan dari Allah (Yoh 20:21-23).

Sosok Yesus dilukiskan dan menjadi jelas dengan memahami apa yang dikerjakan olehnya “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan Kabar Baik” (Mt 11:5). Yesus membawa penyembuhan. Dan penyembuhan itu, salah satu – bukan satu-satunya – wujud Karya Keselamatan Kristus.

Hal di atas menjadi lebih nyata dalam Kristus yang bangkit. Petrus yang sekarang matang dan telah mengimani Kristus yang bangkit berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis. 2:38). Penyembuhan dari Yesus tidak lain adalah berkat Roh Kudus yang hadir dalam diri mereka yang disembuhkan.

Pelayanan penyembuhan Yesus pada orang-orang sakit erat terkait dengan pertobatan dan tersambungnya mata rantai hubungan dengan Allah yang putus. Demikian ajaran iman Katolik, terutama bila Kitab Suci menjadi acuan utama.

Dalam ajaran Gereja Katolik yang konvensional, Kristus yang menyembuhkan terungkap dalam dua sakramen: Pengakuan Dosa dan Pengurapan Orang Sakit. Daya sembuh dua sakramen ini tidak lain berasal dari Roh Kudus yang membawa rahmat Tuhan. Rahmat ini memberi pengampunan dan menyatukan kembali hubungan dengan Allah yang pernah putus.

Psikologi di atas sebenarnya merasuk ke dalam benak banyak orang Indonesia dan umat kita. Ketika sakit mereka memang berharap untuk sembuh. Dan bukan hanya sembuh fisik, mereka juga berharap akan ketenangan dan kedamaian batin. Itulah yang kerap ditemukan dalam situasi tenang ketika mereka berbaring sakit. Selama sakit mereka mengharapkan kesembuhan luar dan dalam.

Kembali ke peranan Roh Kudus yang sangat penting dalam pembicaraan ini. Apa dan siapakah Roh Kudus Sang Pemberi Hidup itu? Tidak sulit memahami ini dari kacamata iman Kristiani. Roh Kudus adalah Roh dari Bapa dan Putera. Roh Kudus inilah yang menghembuskan vitalitas ke dalam Gereja, kekuatan sakramental dan moral, serta kehidupan kekal.

Kita sedang mencoba untuk memahami penyembuhan non-konvensional yang tidak melewati praktik ilmu kedokteran. Kita jangan cepat-cepat mengatakan bahwa itu takhayul. Pasti itu dilakukan oleh orang-orang semacam dukun yang tidak mengenal Kristus. Yang senyatanya terjadi kerap kali sangat lain. Mereka yang mempraktikkan ini justru orang-orang Katolik dan bahkan imam-imam Katolik. Bagaimana praktik ini bisa dipahami?

Dengan demikian berlangsung perdebatan panjang ketika kita bertanya, “Apakah karya Roh Kudus itu menjadi monopoli orang Kristen?”. Yesus merujuk pada Naaman yang menolak Tuhan, tetapi yang justru disembuhkan penyakit kustanya – meski didahului dengan peristiwa pertobatannya (Lk 4:24-27). Kita menghadapi dilema untuk menjelaskan pertanyaan ini.

Jika kita mengatakan ‘ya’, berarti kekristenan adalah eksklusif, superior atas kebenaran agama lain, bahkan menganggap satu-satunya jalan keselamatan. Tetapi, jika mengatakan ‘tidak’ begitu saja, orang bisa jatuh memudahkan diri mengatakan Roh Kudus untuk semua perkara. Yang bisa muncul dari kecenderungan terakhir ini adalah takhayul, berhala, yang justru kerap merugikan praktik beriman umat.

Roh pun diuji dalam buah-buah yang dihasilkan. Yesaya menyebutkan Roh Tuhan dalam rupa hikmat dan pengertian, nasihat dan keperkasaan, dan takut akan Tuhan (Yes 11:2). Paulus menggariskan buah-buah Roh dalam ‘kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan’ (Gal. 5:22). Pada dasarnya Roh Kudus tidak pernah menceraiberaikan Gereja, menyatukan Sang Gembala dengan domba, dan menumbuhkan Iman, Harapan dan Kasih. Di dalam semua itu, berbagai ‘penyembuhan’ yang ajaib baru memiliki arti. Tanpa itu semua segala mukjizat pantas untuk dicurigai.

Cinta dan Kebenaran Paus

Minggu-minggu ini, lima tahun lalu, majalah prestisius yang sangat sekular terbitan Inggris, The Economist (9-15 April 2005) pun ikut meramaikan suasana dengan membuat tulisan sampul mengenai Gereja Katolik dan pemilihan Paus, menyusul wafatnya Paus Yohanes Paulus II. Majalah sekular lain TIME (2 Mei 2005) secara khusus juga membuat cover story tentang Paus Baru Benediktus XVI.

Tak bisa disangkal minggu-minggu itu adalah momen penting yang menentukan tidak saja Gereja, tetapi juga wajah dunia. Berlangsung kemeriahan di seluruh dunia. Berhari-hari media massa, koran, radio, TV, internet menyiarkan sosok penting satu ini. Entah berapa ribu atau juta artikel, berita, refleksi tentang Paus pada saat itu. Sekian ribu seminar, doa, misa dan pertemuan diselenggarakan di seluruh dunia.. Semua membicarakan manusia dari berbagai sudut, dari pemikiran teologinya yang abstrak hingga cara berjalan dan macam makanan yang disantap setiap harinya. Tidak ada yang luput dari pengamatan orang dan pers mengenai Paus ini.

Yang menggetarkan dunia lima tahun lalu bukan saja jabatan Paus itu sendiri, atau Kardinal Joseph Ratzinger itu saja, secara terpisah. Yang membuat orang di seluruh dunia terkejut dan terkagum-kagum, kecewa dan bangga, lega dan cemas sekaligus adalah karena keduanya kini menjadi satu. Yaitu, Kardinal Ratzinger yang menjadi Paus Benediktus XVI.

Kardinal Ratzinger kini tidak hanya sekadar Kardinal. Ia kini menjadi Paus Benediktus XVI. Namun Paus Benediktus juga bukan seperti Paus-Paus sebelumnya. Paus yang diangkat lima tahun lalu itu berbeda dengan Paus yang lain.

Satu contoh bisa diceritakan di sini. Thomas Reese adalah Pemimpin Redaksi majalah Katolik America. Majalah ini sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Ia tetap bertahan dalam posisinya, meski Kardinal Ratzinger yang menjabat sebagai pimpinan Kongregasi Ajaran Iman, lembaga penjaga doktrin Gereja di Vatikan, bertahun-tahun menyampaikan koreksinya terhadap beberapa isu yang dimuat dalam majalah tersebut. Majalah tersebut mempertanyakan ajaran Gereja seperti Dominus Iesus yang menyampaikan Kristus sebagai satu-satunya penyelamat, doktrin Gereja mengenai pernikahan kelamin sejenis, aborsi, dan sebagainya.

Protes seorang Kardinal belum cukup untuk membuat Thomas Reese mundur. Tetapi ketika Sang Kardinal diangkat menjadi Paus, ceritanya menjadi lain. Ia berpikir ulang. Kepekaannya sebagai seorang imam, dan rasa cinta dan kesepahamannya dengan Gereja membuat ia merasa harus mengundurkan diri dari jabatannya tersebut.

Kisah di atas adalah kisah kecil, namun memiliki makna simbolis yang mneyeluruh dan mendalam. Mendengar nama Ratzinger, waktu itu, spontan orang memunculkan beberapa kata sifat ‘konservatif, kaku, tidak bisa digoyahkan’. Meski demikian, orang yang lebih dekat menyebutkan adjektif lain ‘rendah hati, ramah, humoris’. Nampaknya dua macam sebutan tersebut bertentangan. Penelusuran lebih lanjut akan kita temukan sosok ini memang penuh dengan ambiguitas.

Setelah lima tahun umat Katolik dan warga dunia mengikuti kiprahnya, orang bisa merasakan karakter campuran itu.. Keras dalam prinsip, lembut dalam ungkapan. Ketika berbicara mengenai doktrin Gereja, ia ketat dalam cara berpikir, serta memegang kebenarannya erat-erat. Tidak mengherankan bila selama lima tahun terakhir umat yang hidup di atas bumi ini dikejutkan dengan beberapa pernyataan dan ungkapan-ungkapan teologinya.

Lagi-lagi orang keliru, jika mereka menganggap Paus itu melulu sejenis penjaga ortodoksi, semacam satpam ajaran Gereja. Ketika Ratzinger menjadi Paus, ia memainkan peranan yang lebih luas dibanding ketika duduk di posisi kongregasi ajaran iman. Sebagai Paus ia dipanggil untuk memancarkan dua kualitas Kristiani: Cinta dan Kebenaran.

Pada 29 Juni 2009, Paus ini memaklumatkan Ensiklik Caritas in Veritate. Cinta dalam Kebenaran adalah dua kata yang mendalam sekaligus tidak mudah menyisirnya. Sesulit kita memahami Cinta dan Kebenaran dalam seluruh hidup Yesus yang berujung pada Salib, dan Kebangkitan-Nya. Itulah pencarian Paus Benediktus XVI selama lima tahun terakhir ini.

Turunnya Minat Mengaku Dosa

(Merauke, Papua)

Tri Hari Suci dirayakan di mana-mana. Temanya beragam. Mulai dari menurunnya minat mengaku dosa, keteladanan, sampai tingginya semangat kaum muda.

Umat Paroki Santo Yoseph Bampel Keuskupan Agung Merauke (KAMe) mengikuti secara khidmat prosesi jalan salib hidup yang dilakonkan Putra-Putri Altar (PPA), Jumat, 2/4. Upacara dimulai pukul 13.00 WIT. Bertindak sebagai Yesus, seorang siswa KPG Khas Papua Merauke, Benediktus Murdani Kopong. Selain menyanyikan lagu-lagu dari Madah Bakti, umat juga menyanyikan lagu pop “Mama” yang biasa dinyanyikan Edy Silitonga.

Upacara Jumat Agung dipimpin Pastor Stef Tri MSC, mantan Vikep Kevikepan Mappi, KAMe yang baru beberapa bulan hijrah ke Merauke.

Di Tembagapura, Papua, Paskah dirayakan secara ekumenis. Lebih dari seribu umat Kristen merayakannya. Gereja Katolik ditunjuk sebagai Panitia Paskah Ekumene di sporthall Tembagapura, Papua selama Jumat-Senin, 2-5/4.

Arnold Kayame (42) menjadi komandan. Ia melibatkan 120 karyawan PT Freeport dari berbagai denominasi dan siswa/i sekolah YPJ. Misa dipimpin Pastor Michael Agung Christiputra OCarm, Rektor Unika Widya Karya Malang. Umat membawa obor bambu saat prosesi. Hadir dua artis Ibu Kota, Monita dan Alberth Fakdawer. Mereka menghibur umat dengan beberapa lagu hit rohani.

Sementara di Sibolga, Pastor Paskalis Pasaribu OFMCap menekankan keteladanan yang ditunjukkan para rasul. Misa Kamis Putih, 1/4, di Stasi Mela dengan acara membasuh kaki 12 orang umat yang mewakili rasul dari unsur Dewan Pleno, pengurus Gereja, kaum bapak, dan postulan Kapusin Siboga. Sekitar 300 orang umat mengikuti Ekaristi memeriahkan perayaan dengan penekanan tema keteladanan dalam hidup. Pastor Paskalis mempertanyakan sedikitnya umat yang mengaku dosa. Ia mengungkapkan, hanya sekitar 20 orang yang mengaku dosa dari 150 kepala keluarga (kurang lebih 350 jiwa). Saat ia menyindir hal itu, umat tersenyum-senyum saja.

Ia melanjutkan, ketika Sinode Keuskupan Sibolga membahas keterlibatan umat sebagai pengurus Gereja, terungkap banyak umat menolak menjadi pengurus Gereja dengan alasan hitung-hitung balas jasa (finansial). Bila para rasul menghitung-hitung untung rugi seperti itu, jelas mereka tidak mampu mengosongkan diri dan upaya pelayanan akan berorientasi pada materi.

Lain lagi di Yogyakarta. Tidak seperti biasanya, hari itu Gereja Stasi Santo Ignatius Ponggol, Hargobinangun, Pakem, Yogyakarta ramai didatangi orang. Gereja yang terletak di lereng Gunung Merapi wilayah timur ini, Jumat, 2/4, didatangi umat Katolik dari berbagai kota, seperti Semarang, Magelang, Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Umat mulai berdatangan sejak pukul 12.00 WIB. Untuk pertama kalinya sebuah drama kolosal kisah sengsara dan kematian Yesus dipersembahkan Orang Muda Katolik (OMK) Ponggol dalam ibadat Jumát Agung yang dipimpin Pastor Matheus Riya Winarta Pr.

Prosesi berlangsung di Bukit Tegal Batu di tepi Kali Boyong. Yusuf David Palma Putra (21) berperan sebagai Yesus. Ia berharap umat mampu meneladani kepemimpinan Yesus. “Keteladanan pemimpin dalam tugasnya dewasa ini kian pudar. Para pemimpin yang dipilih rakyat terkesan melupakan rakyat karena terbukti hanya memperkaya diri. Para pemimpin tidak berani sengsara demi rakyatnya,“ tegasnya.

Di Keuskupan Banjarmasin, sejak Minggu, 28/3, umat merayakan Tri Hari Suci dengan khidmat. Di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, jalan salib dimainkan sekitar 30 muda-mudi dari Paroki Bunda Maria Banjarbaru bersama para seminaris Seminari Menengah “Johaninum” Banjarbaru. Ibadat dipimpin Pastor Agustinus Doni Tupen MSF.

Di Katedral Banjarmasin, Misa malam Paskah, Sabtu, 3/4, dipimpin langsung Uskup Banjarmasin, Mgr Petrus Boddeng Timang, didampingi Pastor Theodorus Yuliono Prasetyo Adi MSC dan Pastor Frensius Suprijadi CM. Dalam homilinya, Mgr Petrus Timang menekankan, seorang yang percaya pada Kristus yang bangkit adalah orang yang penuh harapan menatap masa depan. Dengan wafat dan kebangkitan Kristus, kita semua dijadikan manusia baru. Usai penyampaian homili, 23 orang calon baptis maju ke depan altar.

Sedangkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap, meminta umat mempersiapkan diri dengan mengikuti Sakramen Tobat. Uskup mengingatkan, Sakramen Tobat telah tercantum sebagai satu dari lima butir Perintah Gereja. Pertobatan harus dilakukan agar pada saat Paskah, umat mendapatkan pengampunan Ilahi.

Sylvia Marsidi
Laporan: Sensiskos Nai, Markus Mardius, Elinus Waruwu, Johanes Sutanto de Britto, Dionisius Aguh Puguh Santosa, Bazz.

[Keterangan Foto] Jatuh: Salah satu adegan tablo di Paroki Santo Yosef Bampel, Merauke. (Sensiskos Nai)

Dari Kepala Turun ke Tangan

(Cakung, Jakarta Timur)

“Anda tahu, saya bangga dengan Anda semua. Anda tidak hanya cerdas, tetapi juga terampil.” Pengakuan ini berasal dari Superior General Suster Sang Timur (PIJ), Hna Maria Del Rosio, dalam kunjungannya ke TK-SD K Sang Timur Cakung, Jakarta Timur, Selasa, 30/3/10. Ungkapan syukur dan bangga itu terlontar ketika Hna Maria menerima buah karya anak-anak TK berupa gambar Ibu Clara Fey, pendiri Sang Timur.

Dalam rangka visitasinya ke Indonesia, Hna Maria mengunjungi TK dan SD K Sang Timur di Cakung. Walau sekolah di Cakung tergolong muda, kedua sekolah ini telah memberikan prestasi yang membanggakan.

Prestasi itu, antara lain, juara lomba sekolah sehat nasional yang dimenangkan oleh TK K Sang Timur. Selain itu, secara akademik, SD K Sang Timur menjadi sekolah unggulan di Kecamatan Cakung. Menanggapi prestasi itu, Hna Maria mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup.

Biarawati dari Colombia itu menguraikan visinya di depan siswa-siswi Sang Timur, “Kecerdasan yang kalian miliki harus kalian resapkan ke dalam hati. Dari hati, tumbuhkan semangat ke tangan kalian. Dengan demikian, kalian bisa menjadi tidak hanya cerdas, tetapi juga terampil penuh cinta.”

Hna Maria yang ditemani Sr Rita PIJ mengaku sangat kagum dengan penampilan siswa-siswi TK dan SD. Tari-tarian yang disuguhkan memang cukup mengagumkan, apalagi tarian itu ditampilkan oleh anak-anak TK.

Tak henti-hentinya, Hna Maria memberikan tepuk tangan dan senyum kepada mereka yang tampil. Hna Maria juga berterima kasih atas penyambutan yang meriah itu. Dia merasa seperti di rumah sendiri.

Kegembiraan juga dirasakan oleh Hna Maria ketika berkeliling kompleks TK dan SD K Sang Timur Cakung. Sang Superior General berharap, para suster yang dibantu oleh guru dan karyawan dapat mengembangkan para siswa menjadi pribadi yang dewasa, cerdas secara intelektual dan emosional.

Paul D.F.

Kalkuta Melahirkan Teresa

Pada 6 Januari 1929, setelah lima minggu perjalanan laut dari kampung halamannya, Suster Teresa (19 tahun) tiba di Kalkuta, India. Sebuah kota yang kemudian menjadi brand, yang tidak bisa dipisahkan lagi dengan perempuan ini. Dari lautan lepas, kapal merapat melalui Sungai Gangga. Dalam hati, Suster Teresa menyanyikan Te Deum, bersyukur pada Tuhan Sang Penyelamat yang telah melindunginya dalam perjalanan panjang.

Ketenangan tiga tahun hidup Suster Teresa di India dan Kalkuta digoncangkan oleh Perang Dunia II (1942). Situasi buruk ini diperparah oleh bencana kelaparan di Kalkuta dan Bengal (1942-1943). Dilaporkan, setidaknya dua juta orang meninggal. Ia dan kawan-kawannya yang ikut mengalami situasi itu, percaya bahwa Tuhan tidak akan membuang mereka. Tetapi doa-doa mereka belum juga dikabulkan. Sebaliknya, pada Agustus 1946, berlangsung kekerasan dan konflik agama Hindu dan Muslim di Kalkuta dan sekitarnya. Diperkirakan lima ribu orang tergeletak mati di jalanan Kalkuta, sementara 50 ribu orang luka-luka. Seluruh aktivitas dan penyediaan bahan makanan macet.

Apa yang dilakukan Suster Teresa yang selama kejadian itu menjabat kepala sekolah anak-anak India? Ia keluar dari kenayamanan dan ketenangan biaranya, mencari makan untuk anak-anak didiknya. Dengan penuh keberanian ia menerobos kota Kalkuta yang banjir darah itu. Sangat mengharukan bahwa aksi yang dibuatnya bukan karena perintah pimpinan biaranya. Bahkan bukan pula karena ia merasa harus bertanggungjawab terhadap keselamatan anak didiknya. Melainkan, ia melakukan ini karena ’ia memilih’. Berlangsung di dalam dirinya ’panggilan di dalam panggilan’.

September 1946, Suster Teresa pergi menyepi dan retret di Biara Loreto di Darjeeling, 500 kilometer utara Kalkuta. Dalam perjalanan dengan kereta api, ia merasa yakin Kristus menjumpai dirinya. Perjumpann ini menjadi ’panggilan kedua’, ’panggilan dalam panggilan’ baginya. Perkampungan kumuh dan orang-orang terlantar di jalan-jalan kota Kalkuta terasa memanggilnya lebih kuat dan keras daripada kenyamanan Biara Loreto. Dia melihat jelas bahwa Kristus menghendaki untuk itu. Hari Pencerahan itu adalah 10 September 1946.

Di awal temuan itu, ia mendapatkan cahaya kegembiraan yang membawanya dekat dengan Kristus. Tetapi ini tidak berlangsung lama, cahaya terang kemudian diselimuti kegelapan yang tebal. Kristus terasa tidak hadir sama sekali di sana.

Pada 7 Oktober 1950, pada hari Maria Ratu Rosari Suci, Kongregasi Misionaris Cintakasih (MC) resmi lahir di Keuskupan Agung Kalkuta. Hari itu pula menandai dikenalnya seorang Ibu Teresa yang mengunjungi dan menghidupi perkampungan padat Kalkuta. ”Saya sebenarnya tidak mampu membantu, karena memang saya tidak memiliki apapun. Tetapi setidaknya kehadiran saya telah memberikan kegembiraan untuk mereka.”

Ibu Teresa datang ke rumah-rumah plastik serba darurat berukuran 2 x 1 meter. Dia melukiskan bagaimana untuk masuk ke gubuk-gubuk itu tidak mudah karena lubang yang dijadikan pintu itu terlalu sempit. Demikian pula, dia harus merunduk karena atap plastik terlalu pendek.

Mula-mula Suster Teresa melakukan kunjungan-kunjungan itu di antara waktu luang berbagai pekerjaan sebagai Suster Loreto. Sepuluh tahun dia mencari kehendak Tuhan dalam hatinya. Dan akhirnya dia mendirikan MC dan dia menjadi pemimpin sekaligus anggotanya. Dalam kelompok ini, bukan saja di kala luang, melain- kan seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk orang-orang terlantar di Kalkuta. Kelak para anggotanya, melayani orang-orang yang terbuang tidak saja di Kalkuta, melainkan di belahan banyak negara.

Kalkuta adalah lumpur, Ibu Teresa adalah teratainya. Ibu Teresa adalah mutiara yang bersinar di tengah-tengah kegelapan dan kekumuhan. Dan, pohon kaktus menjadi nampak indah justru ketika hadir di tempat kering. Kalkuta telah mengasah Ibu Teresa menjadi seorang kudus di tengah-tengah situasi berdosa.

Sumber Foto:
1. muttertheresa [www.bollywoodsbest.de]
2. motherteresa/young [www.ewtn.com]

Memimpin Menuntut Pertobatan

TANTANGAN banyak pemimpin di lingkungan Gereja (juga di luar Gereja) adalah lemahnya pengambilan keputusan yang benar. Seorang pemimpin adalah decision maker, pembuat dan pengambil keputusan. Seorang pemimpin boleh saja tidak ramah, bukan orator yang menarik, tetapi yang harus ada dalam pemimpin adalah arah dan petunjuk. Tanpa petunjuk, umat bergerak tanpa arah. Selengkapnya...

Pagar Gereja

MANUSIA moderen berkecenderungan membangun pagar rumah. Dengan pagar, manusia membuat batas, sekaligus memperjelas mana hak dan kewajiban masing-masing yang tidak boleh dilanggar maupun melanggar. Yang paling utama, pagar membuat manusia moderen menjadi aman. Selengkapnya...

Keteladanan Guru Agama Katolik?

BEBERAPA KALI SAYA mendengar terjadi kemerosotan keteladanan guru agama Katolik. Kisah yang saya dengar adalah sebagai berikut; guru agama Katolik kurang terlibat aktif berkegiatan di lingkungan Gereja. Seorang guru agama Katolik sering absen ke gereja demi kepentingan pribadinya. Ketika salah seorang umat di lingkungannya mengalami musibah kematian, ia tidak juga melayat dan turut mendoakan tetangganya. Bahkan ada guru agama Katolik yang sering bertengkar dengan isterinya karena masalah sepele. Ironis! Selengkapnya...

Pendidikan Papua Kritis

(Kemakmuran, Jakarta Barat)

“Tiap kelas kita buat beda. Kelas satu kita bikin jelek, kelas dua mendingan, sampai kelas enam kita pasang AC, agar mereka bergairah untuk terus sekolah,” celetuk G. Hidayat dari Yayasan Umat Peduli Pendidikan (YUPP). Selengkapnya...

Guru Besar Ke-21 Unika Atma Jaya

(Semanggi, Jakarta Selatan)

Untuk ke-21 kalinya, Unika Atma Jaya Jakarta memberikan gelar Profesor atau Guru Besar kepada staf pengajarnya. Kali ini, kepada Prof Dr B.P. Dwi Riyanti, Psikolog.

Acara pengukuhan dilaksanakan di Gedung Yustinus Lt 14 Universitas Atma Jaya, Jumat, 19/2. Sekitar 150 orang, terdiri dari rekan dosen, teman-teman alumni pasca sarjana, Rektor Atma Jaya, para dosen dan keluarga besar Dwi Riyanti menghadiri acara ini. Selengkapnya...

Sosialisasi Wayang Wahyu

(Surakarta, Jawa Tengah)

Pewartaan Kabar Gembira dalam budaya Jawa diyakini lebih mengena jika menggunakan medium wayang wahyu. Karena itu, para pecintanya memperingati hari kelahiran wayang wahyu ke-50 dengan pagelaran wayang semalam suntuk di halaman SD Pangudi Luhur Santo Timotius Solo, Jawa Tengah, Selasa, 2/2. Selengkapnya...